Langsung ke konten utama

Chapter 4 - Minyak (yang tak) Setitik, Rusak Laut Sebelanga

Tumpahan minyak atau Oil Spill merupakan kejadian pencemaran lautan yang 90 persen diakibatkan oleh ulah manusia. Minyak mentah yang tertumpah di lautan ini berasal dari operasi kapal tanker, perbaikan kapal, tabrakan antar kapal, bahkan kebocoran pipa penampung minyak yang di beberapa kasus sampai menimbulkan ledakan atau kebakaran seperti pada tumpahan minyak sebanyak 5.000 liter yang terjadi di Teluk Balikpapan hingga menyebabkan 5 orang nelayan meninggal dunia.

Minyak yang mengandung senyawa berbahaya seperti benzene, toluene, dan xylene serta nitrogen sulfur oksigen tentu saja menimbulkan bahaya pada ekosistem baik kerusakan fisik maupun biokimia. Banyak sekali dampak dari terjadinya tumpahan minyak, yaitu:

  • Kematian organisme
Organisme laut yang terkena kontak langsung dengan tumpahan minyak akan mati karena keracunan senyawa berbahaya. Risiko ini bisa mengenai ikan, kerang, hewan bercangkang, bahkan ikan yang beraada di keramba budidaya. Contohnya yaitu terjadi pada kasus tumpahan minyak di Kepulauan Riau. 
  • Perubahan reproduksi dan tingkah laku organisme
Udang dan kepiting mengalami gangguan mencari makan dan dalam bereproduksi sehingga menghasilkan udang dan kepiting yang cacat dan tidak layak konsumsi. Selain itu, penyu juga mengalami gangguan pada telur-telur yang dihasilkan.
  • Bau tidak sedap 
Tumpahan minyak menyebabkan ikan-ikaan komersial yang tentunya terkena kontak dengan minyak mentah, sehingga dagingnya menjadi bau dan tidak enak pangan. Selain itu, air pantai juga menjadi berbau dan tidak dapat digunakan sebagai destinasi wisata. Hal itu bahkan dapat "bertahan" dalam jangka waktu lama, bahkan pada kasus tumpahan minyak di Karawang, dampak tersebut tetap terasa hingga 1 tahun pasca tragedi tumpahan minyak terjadi.
  • Mengganggu kegiatan budidaya
Budidaya ikan yang berada dalam keramba tentu saja terkena dampaknya karena ikan-ikan tersebut tidak dapat bergerak menjauhi tumpahan minyak. Selain itu, pada kasus tumpahan minyak di Kepulauan Seribu, budidaya rumput laut yang dilakukan oleh masyarakat pun mengalami kerugian karenaa rumput laut tersebut mati dan tidak layak konsumsi.

Dampak negatif dari terjadinya tumpahan minyak ini tidak hanya pada ekosistem makhluk hidup di laut saja, namun kerugian juga dirasakan oleh warga pesisir pantai terutama dalam segi ekonomi dan bahkan mayoritas tidak diberi kompensasi ganti rugi atas kerugian yang telah dialami.

Oil Spill di Teluk Balikpapan

Oil Spill di Pantai Karawang

Oil Spill di Kepulauan Seribu

Oil Spill di Kepulauan Riau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 6 - Terjadinya Pengasaman Air Laut

  Melanjutkan dari  Chapter 5 - Serba Serbi Color Bleaching  sebelumnya, kali ini aku akan bahas lebih lanjut tentang pengasaman air laut. Singkatnya gini , meningkatnya jumlah penduduk, tentu memberi berbagai dampak. Salah satunya efek dari aktivitas penduduk yang juga ikut meningkat akan menghasilkan emisi gas-gas efek rumah kaca.  Pengasaman laut, terjadi karena adanya reaksi antara air laut dengan salah satu gas rumah kaca yaitu CO2. Hal ini menimbulkan terbentuknya senyawa HCO3 yang kemudian akan menjadikan pH air laut turun dan dalam kondisi asam. Asamnya air laut tentu saja memberi dampak bagi ekosistem laut, contohnya terumbu karang yang mengalami Color Bleaching , hewan bercangkang yang mengalami kelainan fisik pada cangkangnya, produksi ikan komersial yang menurun, dan masih banyak lagi. Lalu, bagaimana penjelasan ilmiah mengenai fenomena ini? apa solusi dari terjadinya pengasaman air laut? Hal tersebut dapat diketahui  di sini.